Berita

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Christa Jaya mengalami pertumbuhan signifikan di tahun 2016. Pencapaian tersebut terbukti dengan naiknya aset bank dari Rp 130 miliar di 2015 menjadi Rp 176 miliar di 2016 atau naik 36 persen.

Selain aset yang meningkat, laba bank tersebut juga naik menjadi Rp 5,6 miliar dan berada di urutan pertama dari semua BPR di NTT sejak tahun 2009 saat Chista Jaya berdiri.

Komisaris Utama BPR Christa Jaya, Christofel Liyanto saat jumpa pres di bank tersebut, Selasa (18/4) mengatakan perkembangan BPR Christa Jaya saat ini menunjukan tren yang sangat positif. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya aset bank pada tahun 2016 mencapai 36 persen.  Selain aset bank, laba (pendapatan) BPR Chisrta Jaya juga menempati urutan teratas dari 11 BPR di NTT sejak BPR Chisrta Jaya berdiri pada 2009 silam yakni Rp 5,6 miliar atau naik 22 persen dari tahun sebelumnya.

Menurut Christofel, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat NTT untuk menabung dan juga meminjam uang di bank tersebut.

“Keberhasilan ini bukan hanya kami namun juga masyarakat NTT karena tidak mungkin kita berhasil tanpa campur tangan masyarakat yang memanfaatkan bank ini dan kami percaya masyarakat juga berhasil dalam usahanya” jelasnya.

Ia menjelaskan, saat ini modal inti dari bank tersebut juga sudah meningkat menjadi lebih dari Rp 121 miliar. Untuk tahun 2016 ini dana pihak ketiga juga meningkat dari Rp 109 miliar menjadi Rp 152 miliar lebih dan ada peningkatan pada return on asset (ROA) menjadi 3,18 persen dari standar minimal 1,2 persen.

Chris juga mengatakan bahwa salah satu keberhasilan BPR Christa Jaya pada tahun 2016 adalah dengan mampu menekan angka Non Performing Loan (NPL) atau disebut kredit macet di bawah 5 persen. Bahkan sejak berdiri 2009 dan melayani ribuan permohonan kredit, baru satu kredit bermasalah yang dengan terpaksa dibawa ke ranah hukum untuk proses pelelangan jaminan karena itikad baik dari pihak bank untuk membantu nasabah tersebut keluar dari masalah kredit macet tidak diindahkan.

Terkait target pencapaian tahun 2017 ini, Chris mengatakan BPR Chisrta Jaya menargetkan peningkatan aset mencapai Rp 225 miliar hingga Rp 250 miliar dengan laba diatas Rp 6,5 miliar dan modal inti menembus angka rp 25 miliar.

Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan selama ini kebanyakan pinjaman datang dari bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) seperti usaha show room jual beli kendaraan bekas maupun kontraktor.

Menurutnya, rahasia menjaga kestabilan usaha selama ini adalah memberikan kepuasan kepada nasabah baik nasabah baru maupun nasabah lama. Nasabah, lanjut Christofel, tidak terlepas dari keberhasilan sebuah bank sehingga segala pelayanan terbaik akan diberikan kepada nasabah yang datang untuk menyimpan uang atau meminjam uang.

“Nasabah yang sukses dalam usaha otomatis akan pinjam lagi. Itu prinsip kami sehingga pelayanan prima siap diberikan agar nasabah juga sukses dalam usahanya,” jelasnya.

Mengenai persoalan kredit macet, Christofel mengatakan selama ini BPR Christa Jaya tidak mengambil keputusan sepihak untuk mengeksekusi kredit macet nasabah namun mencari jalan keluar bagi nasabah yang terbelit masalah. Tawaran win-win solution selalu dikedepankan kepada nasabah yang selama ini terjerat kredit macet.

Mami Lenggu, salah seorang nasaba BPR Christa Jaya kepada VN mengaku sangat terbantu dengan pinjaman dari bank tersebut. Pengusaha UMKM yang menjalankan bisnisnya di Pulau Rote tersebut mengatakan bahwa salah satu keunggulan BPR Christa Jaya adalah kemudahan dan waktu yang singkat untuk mengajukan kredit.